Panduan Iman
Penginjilan Kontekstual
Pemuridan

Penginjilan Kontekstual

28 Agu 2026 7 menit baca
Penginjilan kontekstual adalah proses berkelanjutan menyampaikan kebenaran Injil dengan cara yang dapat dimengerti dan diterima oleh penerimanya sesuai latar belakang budaya, sosial, dan ekonomi mereka — tanpa mengurangi atau mencemari kebenaran Injil itu sendiri. Praktik ini diteladankan oleh Tuhan Yesus dan Rasul Paulus, sebagaimana tertulis dalam 1 Korintus 9:19-23.

Poin-Poin Utama

  • Injil diperuntukkan bagi segala bangsa, di segala tempat, dan sepanjang masa (Matius 28:19-20; Markus 16:15; Lukas 24:46-49).
  • Istilah “kontekstualisasi” diperkenalkan oleh Theological Education Fund (TEF) pada 1972, tetapi praktiknya sudah ada dalam Alkitab — misalnya inkarnasi Kristus dan pendekatan Paulus (Kisah Para Rasul 17:16-34; 1 Korintus 9:19-23).
  • Kontekstualisasi bertujuan membuat kebenaran Alkitab dapat dimengerti dalam budaya tertentu tanpa mengurangi keabsahan kebenaran itu sendiri.
  • Paulus “menjadi seperti” orang-orang yang diinjilinya bukan karena tidak punya pendirian, melainkan sebagai strategi agar Injil dapat dimengerti dan diterima (1 Korintus 9:19-23).
  • Tuhan Yesus lebih dulu melakukan pendekatan ini — masuk ke dalam dunia manusia dan berbicara dalam bahasa yang dapat dimengerti manusia.
  • Gereja masa kini dipanggil mengenali konteks budaya, sosial, ekonomi, dan teknologi yang terus berubah agar pemberitaan Injil tetap relevan.

Apa Itu Penginjilan Kontekstual?

Salah satu tugas penting yang Tuhan kehendaki agar kita, murid-murid-Nya, lakukan di dunia ini adalah memberitakan Injil, kabar baik tentang pertobatan dan pengampunan yang kita terima di dalam nama-Nya (Matius 28:19-20; Markus 16:15; Lukas 24:46-49). Bukan hanya kepada satu bangsa dan satu kota tertentu saja, tetapi kepada segala bangsa di berbagai kota dan desa, bahkan sampai ke ujung bumi. Berita Injil adalah berita untuk semua bangsa di segala tempat dan di sepanjang masa. Tugas untuk memberitakan Injil, sampai hari ini diterima oleh Gereja Tuhan sebagai misi yang Tuhan percayakan kepada gereja.

Perjumpaan Injil dengan berbagai latar belakang budaya para penerima berita Injil tidak selalu berlangsung dengan baik. Tidak selalu kebenaran Injil dapat dimengerti dan diterima oleh orang-orang yang mendengar berita Injil, karena latar belakang budaya, sosial, dan ekonomi yang berbeda sama sekali dengan budaya di mana Injil dinyatakan oleh Tuhan. Itu sebabnya, gereja tidak boleh hanya giat memberitakan Injil, tetapi gereja harus melakukan penginjilan yang kontekstual.

Dari Mana Istilah “Kontekstualisasi” Berasal?

Kata “kontekstualisasi” ditambahkan pada perbendaharaan kata dalam bidang misi dan teologi sejak diperkenalkan oleh Theological Education Fund (TEF) pada tahun 1972. Menurut Pdt. Rahmiati Tanudjaja, seorang dosen Misiologi di STT SAAT Malang, para misiolog menyadari bahwa ide tentang kontekstualisasi itu sendiri sebenarnya sudah ada dalam Alkitab, jauh sebelum TEF memperkenalkan istilah tersebut. Contohnya adalah inkarnasi Yesus Kristus dan pendekatan Paulus pada waktu ia mengomunikasikan Injil kepada orang bukan Yahudi (Kisah Para Rasul 17:16-34; 1 Korintus 9:19-23).

Kontekstualisasi adalah proses yang dilakukan secara terus-menerus untuk membuat berita Injil dapat diterima dan dimengerti oleh si penerima dalam budaya mereka yang dinamis, baik secara politik, sosial, maupun ekonomi. Proses ini bertujuan untuk mengupayakan agar kebenaran yang dinyatakan dalam Alkitab dapat menjawab pertanyaan mengenai kebenaran dalam budaya tertentu sesuai dengan Kitab Suci, tanpa mencemari atau mengurangi keabsahan kebenaran itu sendiri, sehingga kebenaran itu dapat dimengerti dan pada akhirnya juga dapat diterima dalam konteks budaya tersebut.

Apa Teladan Rasul Paulus dalam Penginjilan Kontekstual? (1 Korintus 9:19-23)

Inilah yang Rasul Paulus maksudkan ketika ia berkata, “Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat…” (1 Korintus 9:20, Alkitab Terjemahan Baru — LAI) Paulus mengatakan perkataan ini bukan karena ia plin-plan dan tidak memiliki pendirian atau identitas diri yang jelas. Bukan juga karena ia mau menjadi seperti bunglon, hewan yang pandai mengubah warna tubuhnya untuk mengelabui musuhnya, berubah atau menyamar menjadi orang-orang yang berbeda demi keselamatan dan keuntungan dirinya. Melalui perkataan itu, Paulus ingin menyatakan bahwa pemberitaan Injil harus dilakukan sesuai dengan konteks orang-orang yang menerima berita Injil.

Bagaimana Paulus Menerapkan Penginjilan Kontekstual dalam Pelayanannya?

Dalam upaya memberitakan Injil, Paulus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memahami keadaan sosial, budaya, dan ekonomi para penerima Injil yang diberitakannya. Ia berusaha mengenali nilai-nilai yang mereka pegang dan berusaha berpikir serta menanggapi segala sesuatu dengan sudut pandang atau cara berpikir orang-orang yang menerima berita Injilnya, sehingga pemberitaan yang dilakukannya dapat dimengerti dengan baik oleh mereka yang mendengarkan dia, dan pada saatnya dapat diterima oleh mereka.

Dengan demikian, pesan yang mau disampaikan jelas: setiap orang yang mau memberitakan Injil tidak cukup hanya memiliki dan mengerti Injil yang akan diberitakannya. Agar pemberitaan Injil dapat dimengerti dan diterima oleh para pendengarnya, sebagai pemberita kita perlu menyadari bahwa kita tidak boleh hanya mengenal kebenaran Injil yang mau kita beritakan. Selain memahami Injil yang mau kita beritakan, kita juga mesti mengenal dengan baik keberadaan orang-orang yang akan mendengar pemberitaan kita, memahami cara berpikir mereka, dan berbicara dengan bahasa mereka — yang dalam bahasa Paulus disebutkan “…bagi orang…aku menjadi seperti orang…” Dengan cara itu, Paulus berupaya untuk mengurangi berbagai penolakan karena kesalahpahaman atau ketidakmengertian berkaitan dengan kebenaran Injil yang diberitakannya.

Apakah Tuhan Yesus Juga Melakukan Penginjilan secara Kontekstual?

Kesediaan Paulus untuk menjadi sama seperti orang-orang yang menerima pemberitaannya menjadi strategi pemberitaan Injil yang Paulus lakukan agar dapat memenangkan sebanyak mungkin orang yang dijumpai dalam pelayanan pemberitaannya. Strategi atau metode yang Paulus lakukan bukan metode baru — Tuhan Yesus telah lebih dulu melakukan hal itu ketika Ia menyatakan Injil-Nya kepada manusia. Ia masuk ke dalam dunia dan menjadi sama seperti manusia, merasakan apa yang dirasakan manusia, berhadapan dengan banyak pergumulan yang dihadapi manusia, dan berkata-kata dalam bahasa yang dapat dimengerti manusia. Tuhan Yesus memberitakan Injil-Nya secara kontekstual, sehingga kita, manusia, dapat mengerti, menerima, dan percaya kepada-Nya.

Bagaimana Gereja Masa Kini Menerapkan Penginjilan Kontekstual?

Hari ini gereja dipanggil untuk melakukan hal yang sama. Agar pemberitaan Injil yang dilakukannya dapat menyentuh hati para penerima berita, gereja perlu mengenali konteks pemberitaannya dengan baik. Dunia, tempat di mana gereja dipanggil dan diutus Tuhan untuk memberitakan Injil, terus berubah, sejalan dengan perubahan sosial, budaya, ekonomi, dan teknologi yang ada di dalamnya. Maka gereja pun harus mengubah caranya mengekspresikan diri, persekutuan, dan misi sesuai dengan konteks di mana gereja diutus Tuhan, agar pemberitaannya dapat dimengerti dan relevan dengan kehidupan para penerima berita Injil saat ini. Selamat berjuang melakukan tugas pemberitaan Injil, Tuhan menyertai dan memperlengkapi.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa itu penginjilan kontekstual?

Penginjilan kontekstual adalah proses berkelanjutan menyampaikan kebenaran Injil dengan cara yang dapat dimengerti dan diterima oleh penerimanya sesuai budaya, sosial, dan ekonomi mereka, tanpa mengurangi atau mencemari kebenaran Injil itu sendiri.

Dari mana istilah “kontekstualisasi” berasal dalam misi dan teologi?

Istilah ini diperkenalkan oleh Theological Education Fund (TEF) pada tahun 1972. Namun menurut Pdt. Rahmiati Tanudjaja, dosen Misiologi di STT SAAT Malang, praktik kontekstualisasi itu sendiri sudah ada dalam Alkitab jauh sebelum istilah ini diperkenalkan, misalnya lewat inkarnasi Yesus Kristus.

Apa dasar Alkitab bagi penginjilan kontekstual yang dilakukan Rasul Paulus?

Dasarnya terdapat dalam 1 Korintus 9:19-23, di mana Paulus menjelaskan bahwa ia “menjadi seperti” orang Yahudi bagi orang Yahudi dan seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat bagi mereka, supaya ia dapat memenangkan mereka bagi Kristus. Contoh lainnya adalah pendekatan Paulus kepada orang bukan Yahudi di Kisah Para Rasul 17:16-34.

Apakah kontekstualisasi berarti mengubah kebenaran Injil agar sesuai budaya tertentu?

Tidak. Kontekstualisasi bertujuan membuat kebenaran Injil dapat dimengerti dan diterima dalam budaya tertentu, tanpa mencemari atau mengurangi keabsahan kebenaran Injil itu sendiri.

Bagaimana Tuhan Yesus mencontohkan penginjilan kontekstual?

Tuhan Yesus masuk ke dalam dunia dan menjadi sama seperti manusia — merasakan apa yang dirasakan manusia, menghadapi pergumulan manusia, dan berbicara dalam bahasa yang dapat dimengerti manusia — sehingga Injil-Nya dapat dimengerti, diterima, dan dipercaya.


Sumber & Referensi:
Artikel ini diadaptasi dari renungan “Penginjilan Kontekstual” oleh Pdt. Lie Nah, dipublikasikan oleh GKI Perniagaan: gkiperniagaan.org/renungan/penginjilan-kontekstual.html

Referensi tambahan yang disebut dalam naskah asli: Pdt. Rahmiati Tanudjaja (dosen Misiologi, STT SAAT Malang).

Ayat Alkitab yang dirujuk: Matius 28:19-20; Markus 16:15; Lukas 24:46-49; Kisah Para Rasul 17:16-34; 1 Korintus 9:19-23 (Alkitab Terjemahan Baru — LAI).

LN
Pdt. Lie Nah
Pendeta Jemaat GKI Perniagaan (Pendeta ke-13)

Pendeta Jemaat GKI Perniagaan, ditahbiskan 1 Desember 2008.

Lihat semua tulisannya

Lanjut membaca

Berurutan di rubrik Pemuridan

Tulisan baru, langsung ke Email Anda

Untuk terus memandu iman Anda. Tanpa iklan, tanpa jualan.