Poin-Poin Utama
- Injil selalu hadir dalam bungkus budaya tertentu sejak awal sejarahnya, sehingga tidak dapat sepenuhnya dipisahkan dari budaya yang membawanya — bukan seperti biji dengan kulit yang bisa dikupas, melainkan seperti bawang bombai yang meresap ke seluruh lapisannya.
- Perjumpaan Petrus dengan Kornelius (Kisah Para Rasul 10) menunjukkan bahwa kasih Allah berlaku bagi semua orang yang mencari-Nya dengan segenap hati, lintas latar belakang budaya.
- Ada dua sikap ekstrem terhadap budaya yang perlu dihindari: resistensi total (menolak semua budaya) dan penerimaan total tanpa sikap kritis.
- Sikap yang tepat adalah mempelajari budaya dan Injil secara mendalam, lalu melakukan penafsiran ulang yang relevan — misalnya pemaknaan baru pohon Natal, atau pembacaan ulang kisah penciptaan perempuan sebagai “penolong” (Kejadian 2:18).
- Budaya adalah karya Allah yang perlu dipelihara, namun juga perlu diwaspadai karena turut dirusak oleh dosa dalam struktur sosial dan kultural manusia.
Perjumpaan yang Menginspirasi Refleksi Ini
Kesempatan berkunjung dan merasakan kehidupan selama satu malam dua hari di Pesantren “Pandanaran” Jogjakarta, dalam program Study Intensive Islam (SITI) yang diadakan oleh Universitas Kristen Duta Wacana, menjadi salah satu pengalaman yang mendorong refleksi ini. Upaya mewujudkan “teologia kontekstual” — pemikiran teologia yang bisa mendarat dan dipahami oleh orang yang hidup di dalam suatu budaya dan tempat tertentu — ternyata tidak hanya monopoli para teolog Kristen, namun juga terjadi pada saudara-saudara teolog Muslim. Misalnya, bagaimana menjadikan teks-teks dalam Al-Quran dipahami dengan baik dalam situasi paling aktual sekarang ini, khususnya dalam kebersamaan hidup dengan agama-agama lainnya, dan bagaimana teks-teks tersebut dapat menjadi pegangan menghadapi “kemerosotan” moral sekaligus memberi motivasi untuk ikut ambil bagian dalam kemajuan teknologi dan pengetahuan di era globalisasi.
Penerimaan yang sangat terbuka, dengan dialog yang hangat dan akrab tanpa perasaan curiga, membangun persahabatan yang mengarah pada keinginan bersama untuk melakukan yang terbaik bagi generasi muda yang sedang mengalami tantangan yang tidak gampang.
Pengalaman kedua yang sangat menginspirasi terjadi pada keikutsertaan dalam konven pendeta seluruh GKI, dengan kunjungan ke “Kampoeng Kidz” — sebuah Education Land, tempat bermain sambil belajar dengan metode Experiential Learning yang membuat proses belajar lebih menarik dan menyenangkan bagi remaja. Tempat ini didirikan pada tahun 2007 oleh Bapak Yulianto, yang berkomitmen menolong dan memberdayakan anak-anak tidak mampu, khususnya anak yatim piatu dari berbagai daerah dan latar belakang agama. Selain memperoleh pendidikan dan fasilitas gratis, anak-anak remaja ini juga tetap memelihara budaya serta ketaatan mereka kepada Tuhan sesuai agama masing-masing. Gagasan pluralitas, inklusif, terbuka, partisipatif, dan peduli dari Pak Yulianto sungguh didasarkan pada iman percayanya kepada Injil Tuhan Yesus Kristus.
Kedua pengalaman ini, disempurnakan dengan mendengarkan uraian Pdt. Joas Adiprasetya dalam Forum Diskusi Teologia di GKI Pondok Indah, mendorong refleksi kembali tentang sejauh mana relevansi Injil dalam menghadapi budaya modern, khususnya dalam konteks pergumulan kehadiran Gereja di Indonesia saat ini.
Mengapa Injil Tidak Bisa Sepenuhnya Dipisahkan dari Budaya?
Apakah Injil bisa dibebaskan atau dipisahkan dari budaya? Dalam kenyataannya, Injil datang bersama dengan kebudayaan Barat, dan hal ini sangat berpengaruh pada konteks di mana Injil itu dihadirkan. Injil selalu hadir dalam konteks sejarah manusia, dan itu berarti sejak awal keberadaannya, Injil selalu berada dan terbungkus dalam budaya tertentu. Jejak peninggalan yang masih dapat kita saksikan sekarang adalah pemakaian toga, jas, musik gereja, liturgi, serta organisasi gereja. Jadi jelas, kehadiran Injil tidak dapat dilepaskan dari budaya Barat yang meliputinya.
Ada konsep teologis yang menyatakan bahwa hubungan Injil dan budaya seperti biji dengan kulitnya — kita hanya perlu mendapatkan bijinya dan membungkusnya dengan kulit yang baru. Namun konsep ini ternyata tidak dapat dipertahankan, karena gambarannya bukan seperti kulit dengan bijinya, melainkan seperti bawang bombai yang tidak punya biji — sebanyak dan sedalam apa pun dikuliti, tidak akan ditemukan apa pun, karena di dalam kulit bawang itulah meresap semua isinya. Persis seperti Injil yang tumbuh dalam budaya tertentu: ketika dihadirkan di suatu tempat yang baru, ia akan tetap berada dalam kulitnya. Yang penting sebenarnya bukanlah memisahkan Injil dari budayanya, melainkan bagaimana secara kritis dapat memberikan makna baru yang bermanfaat bagi budaya setempat, sebab budaya terus berubah secara dinamis.
Karena budaya selalu berkembang, kita perlu terus-menerus mencermati perubahan budaya yang terjadi — misalnya budaya modern, post-modern, konsumerisme, hedonisme, materialisme, pornografi, dan lain-lain. Perkembangan budaya seperti ini tidak boleh luput dari pengamatan kita, sebab budaya dapat memberi pengaruh yang buruk tapi juga pengaruh yang baik. Yang menjadi soal adalah bagaimana kita dapat memanfaatkan dan memberi makna yang baru dan lebih baik, makna yang bermanfaat bagi kehidupan bersama dalam masyarakat manusia.
Apa Itu Kebudayaan?
Kata kebudayaan, menurut Prof. Koentjaraningrat, seorang antropolog, berasal dari kata Sansekerta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari kata “buddhi” atau budi yang artinya roh atau akal, dan daya, yaitu kuasa atau kekuatan — sehingga kebudayaan dapat berarti “segala sesuatu yang diciptakan oleh budi manusia.” Istilah ini bila dikawinkan dengan kata kultur, yang berasal dari kata kerja Latin colo, colere, berarti membuat, mengolah, mengerjakan, menghias, mendiami (Verkuyl, 1966: 12-13). Dari sini dapat disimpulkan bahwa kebudayaan menjelaskan tentang segala sesuatu yang dipikirkan, diusahakan, serta dikerjakan oleh manusia dalam lingkup (konteks) hidupnya secara utuh untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
Dengan demikian, budaya memiliki makna yang sangat luas dan seolah tidak ada batasnya. Ia mencakup berbagai dimensi kehidupan manusia yang lahir sebagai hasil olah akal dan budi, mulai dari yang terkecil hingga yang terbesar — mulai dari tata cara makan hingga tata cara mengelola sebuah negara. Ada banyak definisi mengenai kebudayaan, namun semua mengerucut pada kesimpulan yang sama: kebudayaan adalah ciptaan manusia. Dengan demikian, tidak ada budaya tanpa manusia, dan tidak ada manusia tanpa budaya. Manusia dan budaya bagaikan dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan.
Perjumpaan antara Injil dan budaya tidak dapat dilepaskan dari upaya misi atau Pekabaran Injil. Misi sering kali dipahami sebagai usaha penginjilan dengan tujuan penambahan jumlah orang Kristen, dan dengan semangat eksklusif (tertutup), usaha penginjilan ini sering kali dilaksanakan tanpa mempertimbangkan konteks masyarakat Indonesia. Kenyataan Indonesia yang ditandai kemiskinan yang merajalela dan keagamaan yang multi-wajah belum mendapat tempat dan perhatian dalam pemahaman dan semangat misi eksklusif yang diwarisi gereja-gereja di Indonesia. Apabila sikap dan semangat eksklusif itu tetap dipertahankan, misi Gereja Indonesia dapat dikatakan sedang dalam keadaan krisis pemahaman, yang pada gilirannya sangat memengaruhi pelaksanaan misi Gereja.
Bagaimana Injil dan Budaya Berjumpa dalam Kitab Kisah Para Rasul?
Perjumpaan Injil dengan budaya lain mengarah pada suatu pembentukan identitas. Petrus, yang pada mulanya bertolak hanya di sekitar Yerusalem, Yudea, dan Samaria, masih berada dalam masyarakat Yahudi. Ketika Injil berjumpa dengan tradisi Yahudi ini, tidak ada masalah, karena masyarakat dan pembawa berita Injil sama-sama berlatar belakang Yahudi yang menjalankan kebiasaan-kebiasaan menyangkut makanan haram, hari Sabat, peraturan sunat, dan lainnya.
Namun ketika Petrus mulai mengunjungi wilayah pantai yang berkebudayaan Yunani-Romawi, tindakan ini membawa dampak luar biasa pada cara pemberitaan Injil dilaksanakan. Pelan-pelan menjadi jelas bahwa kekristenan harus menetapkan tradisi baru yang berlainan dengan tradisi Yahudi. Hal inilah yang menimbulkan bentrokan dengan para pemuka agama Yahudi, imam-imam kepala, dan kaum Saduki. Dalam pandangan mereka, para penganut kristiani awal dinilai menyeleweng dari tradisi — penyelewengan yang menurut hukum tidak bisa ditoleransi karena menggoyahkan keutuhan dan kesatuan budaya. Karena itu, mudah dipahami bila orang-orang Kristen pertama dikejar-kejar, ditangkap, dan dipenjara — bahkan banyak di antara mereka yang dibunuh — pertama-tama oleh otoritas agama Yahudi. Pertemuan dengan alam pikiran Hellenis (budaya Yunani) memberi corak baru dalam perkembangan Injil.
Petrus dan Kornelius: Kasih Allah Melampaui Batas Budaya
Kornelius adalah seorang perwira yang mewakili kekuasaan Romawi. “Ia saleh, takut akan Allah, memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi, dan senantiasa berdoa kepada Allah” (Kisah Para Rasul 10:2, 22). Ia mewakili sekelompok besar orang non-Yahudi yang tertarik kepada paham Yahudi mengenai Allah yang Esa, yang tak terbayangkan dan yang menuntut hidup bermoral tinggi — tetapi mereka tidak ingin menjadi bagian dari orang Yahudi karena tidak mau menerima sunat.
Petrus mengalami kebingungan ketika harus melakukan pendekatan dengan perwira Romawi ini, hingga ia mendapatkan penglihatan tentang sebuah taplak yang turun dari surga penuh dengan binatang yang haram, disertai ajakan untuk memakan hidangan tersebut. Petrus baru mau menerima kehadiran Kornelius setelah tiga kali menerima penglihatan itu, dan ia pun menjelaskan kemustahilan seorang Yahudi bergaul dengan orang non-Yahudi, apalagi masuk rumah mereka (Kisah Para Rasul 10:28). Apabila seorang Yahudi memasuki rumah orang yang tidak memenuhi tuntutan ritual, apalagi makan bersama mereka, maka menurut tradisi atau paham Farisi, ia telah kehilangan kesuciannya dan hanya dapat dipulihkan lewat upacara pentahiran.
Melalui peristiwa ini, Petrus mendapat pencerahan bahwa ia tidak boleh menyebut orang lain yang non-Yahudi sebagai najis atau tidak tahir. Paradigma Petrus mengalami perubahan total — sebagai umat Allah, ia tidak boleh membeda-bedakan manusia yang satu dengan yang lain; semua punya hak yang sama untuk mendapat perhatian dan kepedulian.
Apa Makna Perjumpaan Ini bagi Konteks Indonesia?
Pesan dari kisah di atas sangat penting dan relevan dalam konteks Indonesia yang hidup dalam keberagaman keagamaan. Pertama, Petrus menyadari bahwa kasih Allah berlaku bagi semua umat manusia yang mencari Dia dengan segenap hati — perjumpaan dengan orang-orang yang memiliki agama dan kebudayaan lain akan mengubah paham kita akan Injil. Kedua, mau menerima keberadaan orang yang berbeda kebudayaan. Ketiga, perlu keberanian untuk meruntuhkan tembok-tembok pemisah, sekaligus menciptakan keterbukaan dan kerelaan dari kedua belah pihak untuk melakukan dialog antaragama yang mengarah pada persahabatan dan kerja sama menyelesaikan permasalahan yang terjadi di sekitarnya.
Setiap manusia dalam kehidupannya tidak dapat terlepas dari budaya yang telah membentuknya. Karena itu, bila ada seseorang yang disentuh oleh Injil, dalam hidup budayanya, adat istiadatnya akan tetap bersamanya. Injil dalam kuasa pembebasannya tidak mengubah seseorang menjadi orang asing dari budayanya.
Bagaimana Iman dan Budaya Saling Berkaitan?
Kebudayaan adalah pola hidup manusia dalam kelompok — dihayati dan diamalkan dalam hubungan dengan sesama anggota kelompok atau komunitas. Iman, sebagai relasi yang lebih berdimensi vertikal, dihayati dan diamalkan dalam dimensi horizontal. Sebaliknya, kebudayaan yang lebih berdimensi horizontal tidak dapat dilepaskan dari dimensi vertikal. Bahkan iman dapat diinterpretasikan sebagai sumber dan dasar kebudayaan, sedangkan kebudayaan itu sering diidentikkan dengan agama yang berdimensi vertikal.
Injil dan budaya sama-sama mengklaim kewibawaan atas seluruh kenyataan, sehingga tidak ada domain wilayah yang terpisah-pisah, karena seluruh kenyataan adalah seluruh wilayah kebudayaan. Budaya pada hakikatnya berbicara tentang seluruh hidup manusia — mulai dari pakaian, makanan, musik, bacaan, film, istri, suami, anak, olahraga, ekonomi, politik, teknik, dan lain-lain. Karena budaya menyangkut seluruh hidup manusia, sering kali terjadi gesekan antara budaya dan agama, yang bertambah kompleks karena agama sendiri juga memiliki budayanya.
Seorang Batak yang Kristen, misalnya, akan selalu mempunyai dua identitas itu di dalam dirinya, dan keduanya haruslah terintegrasi — artinya seorang Batak adalah sungguh seorang Batak ketika ia melakukan habitus yang lengkap dengan segala simbol-simbol yang dipahami dalam tradisi Batak; tidak ada Batak minus tradisi atau kebiasaan tertentu. Karena itu, integrasi dalam budaya dan integrasi dalam kekristenan menjadi sangat penting. Injil dari awal selalu mengajarkan orang untuk kreatif, demikian juga iman Kristen perlu selalu kreatif dalam perkembangannya. Kreativitas ini akan menjadikan orang Kristen berani memahami budayanya secara baru dari sudut pandang iman.
Bagaimana Memberi Makna Baru pada Tradisi Budaya?
Misalnya, pada masa Natal, pohon Natal adalah tradisi penyembahan berhala dewa matahari yang dirayakan setiap tanggal 25 Desember, tetapi kemudian mendapat makna yang baru, sehingga orang Kristen tidak merayakan kelahiran dewa matahari, melainkan kelahiran Yesus. Pada saat hal ini terjadi, orang tidak merasa gelisah — sebaliknya, dapat menghayati dengan khusyuk makna kelahiran Yesus bagi kehidupan kristiani. Inilah kreativitas iman: panggilan kita adalah menafsir ulang budaya dalam terang iman Kristen. Inilah yang dilakukan Ompui Nommensen — ia tidak langsung melakukan penginjilan, melainkan memberikan makna baru pada tradisi Batak dalam perjumpaannya dengan Injil Yesus Kristus.
Bagaimana orang Kristen memahami perjumpaan Injil dengan budaya dalam Alkitab dan memberi makna baru dalam situasi kita saat ini? Yang ekstrem adalah seperti munculnya Jefferson Bible, yaitu Alkitab yang tipis karena semua isi yang dianggap negatif — seperti ayat atau perikop yang rasialis, mengandung hal perbudakan, dan bertentangan dengan hak asasi manusia — dihapuskan. Cara kedua adalah dengan menafsirkan teks itu secara baru, bukan hanya yang tersurat, kemudian berusaha menemukan prinsip yang tersirat di balik teks itu. Berdasarkan hal ini, dilakukan penafsiran baru dari teks-teks yang sudah tidak lagi dapat diberlakukan sekarang ini. Hal ini dilakukan oleh GKI — karena itu GKI mempunyai ajaran yang berkembang terus dan selalu aktual mencoba menanggapi perubahan yang terjadi dalam budaya, misalnya dengan konsekuen menekankan equality (kesamaan peran pria dan wanita).
Contoh Konkret dari Perjanjian Lama: Perempuan sebagai “Penolong”
Kejadian 2:18 — “TUHAN Allah berfirman: ‘Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.'”
Kejadian 2:21 — “Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.”
Kita harus memahami dengan baik bahwa penulis Alkitab, dengan latar belakang budaya tertentu, diberi kebebasan untuk mengekspresikan tulisannya. Misalnya, penulis Kitab Kejadian berlatar belakang budaya patriarkat (budaya di mana lelaki mempunyai kedudukan lebih tinggi dari perempuan), sehingga dalam tulisannya ia lebih menonjolkan lelaki — sosok perempuan digambarkan berasal dari salah satu rusuk lelaki (Kejadian 2:21), yang dapat dibaca seolah keberadaan perempuan lebih rendah dari lelaki. Padahal dalam Kejadian 2:18, perempuan diciptakan Tuhan untuk menjadi penolong yang sepadan.
Dalam konteks saat ini, pemikiran yang membedakan posisi lelaki dan perempuan tidak lagi dapat diterima, sehingga para penafsir mempelajari kembali teks Alkitab untuk menemukan makna baru yang relevan. Dalam bahasa Ibrani, kata “penolong” dalam Kejadian 2:18 adalah ezer. Dalam Perjanjian Lama, kata ezer juga dipakai untuk menggambarkan Allah sebagai penolong umat-Nya (misalnya Mazmur 121:2; 33:20) — sesuatu yang tidak biasa dipakai untuk menggambarkan manusia yang menolong manusia lain. Kejadian 2:18 menjadi salah satu pengecualian langka di mana kata ini dikenakan pada manusia, yaitu perempuan. Dengan demikian, perempuan sebagai “penolong” dapat dibaca sebagai representasi peran mulia yang juga dikenakan pada Allah sebagai penolong manusia — sebuah penafsiran yang menempatkan kedudukan perempuan setara, bukan lebih rendah, dari laki-laki.
Resistensi dan Penerimaan: Dua Sikap Ekstrem terhadap Budaya
Ada dua sikap ekstrem terhadap budaya, yaitu resistensi dan penerimaan.
Resistensi adalah sikap yang sama sekali menolak budaya — semua patung, pakaian adat, ulos, artefak kuno, adat beserta simbol-simbolnya tidak boleh ada di gereja maupun di rumah orang Kristen. Sikap ini ada baiknya karena selalu waspada terhadap budaya yang dapat merusak, seperti budaya menindas perempuan atau budaya penghamburan uang untuk pesta adat sampai harus berutang. Namun di sisi lain, penolakan total ini juga merugikan penginjilan, sebab budaya sering kali menjadi jalan masuk dan jembatan yang paling baik untuk memperkenalkan Injil kepada semua orang.
Penerimaan adalah sikap menerima semua budaya, dengan mudah berkata bahwa kebudayaan adalah produk luhur kemanusiaan. Sikap ini juga membahayakan, karena tanpa sikap kritis, orang terlalu mudah mengompromikan Injil dengan budaya, sehingga berita Injil sering kali menjadi kabur.
Bagaimana Sikap yang Tepat terhadap Budaya?
Sikap yang baik adalah sebagai berikut.
- Kita harus mempelajari budaya kita sendiri sehingga mempunyai pemahaman yang mendalam tentangnya — jangan semena-mena menolak begitu saja.
- Kita harus mempelajari Injil sehingga mempunyai pemahaman yang benar dan mendalam. Dengan demikian akan dihasilkan penafsiran ulang yang relevan dengan perubahan budaya lokal.
- Kita harus menerima budaya dengan cara yang luhur, tetapi juga sekaligus mengkritisinya dengan sungguh-sungguh — karena kebudayaan pada satu sisi adalah ciptaan Tuhan (teologi penciptaan adalah teologi kebudayaan), karya agung Allah yang harus dipelihara dengan baik, sehingga tidak ada lagi pandangan dualistik antara yang sakral dan yang duniawi. Namun demikian, budaya tetap harus diwaspadai, karena dosa telah merusak bukan hanya manusia secara personal, namun juga struktur sosial dan kultural yang dibangun manusia. Karena itu, budaya dalam kehidupan manusia dapat berdampak positif tapi juga negatif.
(bdk. Joas Adiprasetya, “Injil dan Kebudayaan,” Forum Diskusi Teologi, 15 Agustus 2011, GKI Pondok Indah / rubrik Teropong Kasut edisi 80 / gkipi.org/injil-dan-kebudayaan-konflik-kompromi-atau-kolaborasi)
Kesimpulan: Relevansi bagi Situasi di Indonesia
Perjumpaan Injil dan budaya dalam perkembangannya memerlukan perhatian yang serius, karena menyangkut kehidupan — khususnya generasi muda — dalam mencermati dan mengkritisi perjumpaan yang sangat memengaruhi kehidupan aktual saat ini. Perjumpaan antara Injil dan budaya, atau agama dan budaya, menjadi pergumulan setiap orang beragama dalam upaya mendapatkan makna yang relevan untuk memecahkan permasalahan yang muncul dan terus berkembang.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam relevansinya terhadap situasi di Indonesia:
- Perlu diupayakan untuk mencari dasar pemikiran yang sama di antara agama-agama, yang mengarah kepada kerja sama guna menyelesaikan permasalahan bangsa yang sedang dihadapi bersama.
- Menghilangkan sikap saling curiga-mencurigai, sehingga dapat diadakan dialog persahabatan yang terbuka satu sama lain.
- Memberi makna baru terhadap perkembangan budaya, dengan memahami budaya itu sebaik-baiknya, kemudian melakukan penafsiran ulang terhadap pemikiran teologis yang tidak relevan lagi.
- Melakukan “dialog kehidupan” — dialog yang bertujuan untuk saling mengenal dan mengarah pada persahabatan, berdasarkan keterbukaan satu sama lain, tanpa sikap saling curiga.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apakah Injil bisa dipisahkan dari budaya?
Tidak sepenuhnya. Injil selalu hadir dalam konteks sejarah manusia dan sejak awal keberadaannya selalu terbungkus dalam budaya tertentu. Yang penting bukan memisahkan Injil dari budayanya, melainkan secara kritis memberi makna baru yang bermanfaat bagi budaya setempat.
Apa pelajaran dari perjumpaan Petrus dan Kornelius tentang budaya dan Injil?
Perjumpaan ini (Kisah Para Rasul 10) mengajarkan bahwa kasih Allah berlaku bagi semua orang yang mencari-Nya dengan segenap hati, lintas latar belakang budaya dan bangsa — sehingga umat Allah tidak boleh membeda-bedakan atau menganggap najis orang dari budaya lain.
Apa dua sikap ekstrem yang perlu dihindari orang Kristen terhadap budaya?
Dua sikap ekstrem itu adalah resistensi (menolak total semua budaya tanpa kecuali) dan penerimaan (menerima semua budaya tanpa sikap kritis). Keduanya berisiko — yang pertama merugikan penginjilan, yang kedua mengaburkan berita Injil.
Bagaimana sikap yang tepat orang Kristen terhadap budaya?
Sikap yang tepat adalah mempelajari budaya sendiri secara mendalam, mempelajari Injil secara mendalam, lalu menerima budaya dengan cara yang luhur sambil tetap mengkritisinya, karena budaya adalah karya Allah yang juga terkena dampak dosa.
Apa contoh pemberian makna baru pada tradisi budaya dalam terang Injil?
Salah satu contohnya adalah tradisi pohon Natal, yang semula berasal dari penyembahan berhala dewa matahari, tetapi diberi makna baru oleh orang Kristen sebagai simbol perayaan kelahiran Yesus Kristus.
Apa arti kata “penolong” dalam Kejadian 2:18 menurut bahasa aslinya?
Dalam bahasa Ibrani, kata “penolong” pada Kejadian 2:18 adalah ezer — kata yang dalam Perjanjian Lama juga dipakai untuk menggambarkan Allah sebagai penolong umat-Nya. Penafsiran ini digunakan sebagian teolog untuk menunjukkan bahwa perempuan diciptakan setara, bukan lebih rendah, dari laki-laki.
Sumber & Referensi:
Artikel ini diadaptasi dari tulisan “Perjumpaan Injil dan Budaya” oleh Pdt. Em. Tumpal Tobing, dipublikasikan oleh GKI Pondok Indah: gkipi.org/perjumpaan-injil-dan-budaya
Referensi tambahan yang disebut dalam naskah asli: Prof. Koentjaraningrat (antropolog); J. Verkuyl (1966); Pdt. Joas Adiprasetya, “Injil dan Kebudayaan,” Forum Diskusi Teologi GKI Pondok Indah, 15 Agustus 2011 (gkipi.org/injil-dan-kebudayaan-konflik-kompromi-atau-kolaborasi).
Ayat Alkitab yang dirujuk: Kisah Para Rasul 10:2, 22, 28; Kejadian 2:18, 21 (Alkitab Terjemahan Baru — LAI).