Poin-Poin Utama
- Akar GKI dimulai dari prinsip GIUZ dan F. L. Anthing bahwa penginjilan Tionghoa sebaiknya dikerjakan oleh orang Tionghoa sendiri, diwujudkan lewat kedatangan Gan Kwee dari Amoy (Xiamen) pada 1856.
- Pada 13 Desember 1858, Ang Boen Swie beserta keluarganya dibaptis di Indramayu — salah satu jemaat tertua yang menjadi cikal bakal GKI Jawa Barat.
- Pada 1868, tujuh belas orang dibaptis oleh Ds. de Gaay Fortman di Batavia dan menjadi inti komunitas Patekoan — cikal bakal GKI Perniagaan, salah satu jemaat GKI tertua di Jakarta yang usianya kini lebih dari 155 tahun.
- GKI Perniagaan melahirkan setidaknya tujuh jemaat baru: GKI Pinangsia dan GKI Kanaan (1952), GKI Samanhudi (1953), GKI Muara Karang (1980), GKI Batam (1998), GKI Gading Serpong (2004), dan GKI Sunda Kelapa (2023).
- Pendeta kedua GKI Perniagaan, Pdt. Tjoa Tek Swat, dihukum penggal oleh Kempetai Jepang pada 12 Desember 1944 — salah satu kisah kemartiran yang jarang diketahui dalam sejarah gereja Tionghoa di Indonesia.
- Di Semarang, Liem Siok Hie mengubah pertemuan penginjilan di rumahnya (1932) menjadi THKTKH Semarang yang didewasakan pada 1935.
- THKTKH Jawa Tengah berganti nama menjadi GKI pada 1956, disusul Jawa Timur (Mei 1958) dan Jawa Barat (Oktober 1958).
- Tiga wilayah GKI menyatu lewat Sinode Am (1962), ikrar penyatuan (1988), dan satu Tata Gereja bersama (2003).
- Gereja etnis Tionghoa tidak selalu lahir karena misionaris memisahkan jemaat — kasus Bandung menunjukkan komunitas Tionghoa sendiri yang menginginkan ibadah terpisah karena bahasa dan adat.
Dari Mana Nama “GKI” Berasal?
GKI adalah singkatan dari Gereja Kristen Indonesia — tetapi nama ini bukan nama pertama yang dipakai gereja tersebut. Sebelum menjadi GKI, jemaat-jemaat yang kini bernaung di bawahnya dikenal dengan nama Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH), yang secara harfiah berarti “Perhimpunan Agama Kristen Tionghoa”. Perjalanan dari THKTKH menjadi GKI bukan sekadar ganti nama administratif; ia adalah cerminan dari perjalanan iman, identitas, dan kebangsaan yang panjang, yang dimulai lebih dari satu abad sebelum nama GKI pertama kali dipakai.
Cikal Bakal: Prinsip “Tionghoa Menginjili Tionghoa” dan Kedatangan Gan Kwee (1856)
Untuk memahami akar GKI, kita perlu kembali ke pertengahan abad ke-19, ketika sebuah jaringan zending bernama GIUZ — yang dipengaruhi oleh F. L. Anthing — mengusung sebuah prinsip yang terdengar sederhana namun terbukti menentukan: penginjilan kepada orang Tionghoa sebaiknya dikerjakan oleh orang Tionghoa sendiri, bukan semata oleh misionaris Eropa.
Prinsip ini diwujudkan pada 1856, ketika seorang evangelis bernama Gan Kwee didatangkan dari Amoy (Xiamen). Ia tidak menetap di satu tempat saja; dari pos penginjilannya di Batavia, ia menjelajahi Cirebon, Tegal, Semarang, Ambarawa, Salatiga, Surakarta, Magelang, Pasuruan, hingga Probolinggo. Pelayanan itinerannya inilah yang menabur benih di banyak kota Jawa yang kelak menjadi pusat-pusat jemaat GKI.
Indramayu 1858: Salah Satu Jemaat Tertua Cikal Bakal GKI
Salah satu buah pelayanan Gan Kwee terwujud di Indramayu. Pada 13 Desember 1858, Ang Boen Swie beserta keluarganya dan beberapa keluarga Tionghoa lain dibaptis oleh Pdt. J. A. W. Krol dari Gereja Protestan Belanda di Cirebon. Tradisi GKI Jawa Barat memandang komunitas Indramayu ini sebagai asal salah satu jemaatnya yang tertua — sebuah titik yang menunjukkan bahwa kekristenan Tionghoa di Jawa Barat sudah berakar puluhan tahun sebelum Indonesia merdeka, bahkan sebelum banyak lembaga zending Belanda memberi perhatian sistematis kepada orang Tionghoa.
GKI Perniagaan: Dari Komunitas Patekoan Menjadi Salah Satu GKI Tertua di Jakarta
GKI Perniagaan adalah jemaat Gereja Kristen Indonesia yang beralamat di Jl. Perniagaan No. 1, Tambora, Jakarta Barat, dan merupakan salah satu jemaat GKI tertua di Indonesia — akarnya langsung tersambung dengan komunitas Patekoan yang dirintis Gan Kwee sejak 1856. Perjalanan lebih dari 155 tahunnya menjadikannya salah satu titik paling penting untuk memahami bagaimana penginjilan Tionghoa di Batavia berkembang menjadi jaringan gereja yang luas di Jakarta dan sekitarnya.
Siapa Pendiri GKI Perniagaan?
Sepuluh tahun setelah pembaptisan di Indramayu, tepatnya pada 1868, tujuh belas orang dibaptis oleh Ds. de Gaay Fortman di Batavia. Mereka menjadi inti dari komunitas yang dikenal sebagai Patekoan — cikal bakal GKI Perniagaan. Tiga tokoh biasa disebut sebagai perintis utamanya:
- Gan Kwee, penginjil dari Amoy yang memulai pelayanan di Jalan Pagerman sejak 1856 dan terus melayani Patekoan selama 45 tahun hingga wafat pada 22 Juni 1901.
- F. L. Anthing (1820–1883), mantan pejabat pengadilan Hindia Belanda yang bergabung dalam pekabaran Injil setelah pensiun pada 1867, dan karena pendekatan kontekstualisasi budayanya kerap disebut sebagai “rasul bagi gereja Tionghoa”.
- Gouw Ko (1849–1938), pedagang Kristen yang pada 1884 menghibahkan empat rumahnya di Jalan Patekoan untuk dijadikan gedung gereja. Berbeda dari misionaris yang digaji lembaga zending, Gouw Ko adalah orang awam yang membiayai pelayanan dengan hartanya sendiri — perannya menandai pergeseran dari struktur misi yang berpusat pada misionaris Eropa menuju struktur yang digerakkan oleh evangelis dan patron Tionghoa sendiri.
Pada 1899, komunitas ini memperoleh status resmi dari Pemerintah Hindia Belanda, tepat ketika Gan Kwee kembali melayani di Batavia menjelang akhir hidupnya.
Kebangunan Rohani John Sung di Patekoan (1939)
Sama seperti dampaknya di Surabaya, kebangunan rohani yang dipimpin Dr. John Sung juga menyentuh Patekoan. Pada 1939, pelayanannya membawa sekitar 150 orang dibaptis dalam setahun — sebuah lonjakan pertumbuhan yang menandai salah satu titik puncak sejarah jemaat ini sebelum masa pendudukan Jepang.
Pdt. Tjoa Tek Swat: Pendeta yang Menjadi Martir (1944)
Salah satu kisah paling menggetarkan dalam sejarah GKI Perniagaan adalah kisah Pdt. Tjoa Tek Swat, pendeta kedua jemaat ini yang ditahbiskan pada 29 September 1940 — hanya beberapa bulan setelah pendeta pertama, Pdt. Gouw Khiam Kiet (David Timothy Gunawan), ditahbiskan pada 24 Maret 1940. Di tengah masa pendudukan Jepang, Pdt. Tjoa Tek Swat dihukum penggal oleh Kempetai (polisi militer Jepang) pada 12 Desember 1944. Kisahnya adalah salah satu kesaksian tersembunyi tentang harga yang dibayar sebagian pelayan Tuhan pada masa yang paling gelap dalam sejarah Indonesia — mengingatkan kita akan kata-kata Tuhan Yesus, “Setialah sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan” (Wahyu 2:10).
“Peristiwa Patekoan” 1953 dan Kelahiran Gereja-Gereja Baru
Tidak semua bagian dari sejarah GKI Perniagaan berjalan mulus. Pada 10 Mei 1953, terjadi perbedaan pendapat serius antara Majelis Jemaat dan sebagian anggota — dikenang dalam sejarah jemaat sebagai “Peristiwa Patekoan”. Perpecahan ini melahirkan GKI Samanhudi sebagai jemaat tersendiri, yang sempat beribadah di Gedung Krekot 28 sebelum akhirnya membangun Gedung Gereja Kelinci 34 (diresmikan 5 Desember 1955) dan kemudian pindah ke Gedung Samanhudi 28 pada 1976.
Sebelum peristiwa itu pun, GKI Perniagaan sudah mengalami dua kali pemekaran karena perbedaan bahasa pengantar ibadah: GKI Pinangsia (11 April 1952) dan GKI Kanaan di Jembatan Dua (18 Mei 1952), keduanya merupakan kelompok jemaat berbahasa Hokkian. Meski sempat berpisah secara organisasi, GKI Perniagaan dan sinodenya mencapai rekonsiliasi dengan GKI Samanhudi pada 10 Mei 1960 — tepat tujuh tahun setelah perpecahan terjadi.
Gereja-Gereja yang Lahir dari GKI Perniagaan
Selain GKI Pinangsia, GKI Kanaan, dan GKI Samanhudi, pertumbuhan jemaat GKI Perniagaan terus menghasilkan gereja-gereja baru di paruh kedua abad ke-20 dan awal abad ke-21:
- GKI Muara Karang (31 Oktober 1980), berkembang dari pos pelayanan di kawasan Pluit.
- GKI Batam (27 Februari 1998), hasil kerja sama dengan tiga jemaat lain.
- GKI Gading Serpong (26 Januari 2004), perluasan pelayanan ke wilayah Tangerang.
- GKI Sunda Kelapa (dilembagakan 13 November 2023), yang perjalanannya bermula dari Pos PI Perok Pasar Ikan yang dirintis GKI Kelinci (kini GKI Samanhudi) pada 1953, lalu diasuh langsung oleh GKI Perniagaan sejak 1968 selama lebih dari lima dekade sebelum menjadi jemaat mandiri dengan visi “Gereja yang Kuat dan Bersahabat”.
Dengan demikian, dari satu komunitas kecil di Jalan Patekoan pada 1868, kini setidaknya tujuh jemaat GKI dapat menelusuri garis keturunan rohaninya kembali ke GKI Perniagaan.
GKI Perniagaan Hari Ini
Gedung gereja yang digunakan GKI Perniagaan saat ini diresmikan pada 26 Juli 1974, menggantikan bangunan lama di area Patekoan. Jemaat ini beribadah setiap Minggu dalam tiga sesi (pukul 06.30, 09.00 — dengan siaran langsung — dan 17.00 WIB), dan menjalankan pelayanan sosial melalui Yayasan PERNIAS yang didirikan pada 1986, mencakup pelayanan radio, panti sosial “Muara Kasih”, beasiswa bagi puluhan anak, pembinaan guru agama di sekolah negeri dan swasta, serta kerja sama misi dengan gereja-gereja di Nias, Sumba, dan Kepulauan Riau. Di bawah visi terbaru “Jemaat yang Misioner” melalui gerakan HOME, GKI Perniagaan menegaskan diri bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan — sesuai motonya — jemaat yang “Hidup, Ramah, Berdampak”.
Bandung: Ketika Jemaat Tionghoa Meminta Ibadah Sendiri
Tidak semua jemaat Tionghoa yang menjadi bagian dari GKI lahir dengan cara yang sama. Di Bandung, NZV pada mulanya menginjili terutama masyarakat Sunda. Sejarah resmi GKI Jawa Barat mencatat bahwa setelah tujuh tahun pelayanan A. Geerdink, baru ada 25 anggota Kristen — belum seorang pun Tionghoa. Barulah kemudian anggota Tionghoa bertambah, dan pada 1920-an merekalah yang menginginkan organisasi dan ibadah tersendiri — bukan karena dipaksa misionaris, melainkan karena perbedaan bahasa dan adat istiadat.
Pemisahan kebaktian ini terwujud pada 1924, dan pada 1934 Tan Goan Tjong ditahbiskan menjadi pendeta bagi jemaat Tionghoa Bandung. Fakta ini penting secara historis: gereja etnis tidak selalu lahir karena misionaris ingin melakukan segregasi. Dalam kasus Bandung, komunitas Tionghoa sendirilah yang mencari ruang organisasi untuk menampung bahasa, adat, dan kepemimpinan yang berbeda dari jemaat Sunda.
Semarang: Dari Rumah Liem Siok Hie Menjadi THKTKH Semarang
Di Semarang, jalur menuju GKI dirintis oleh seorang penatua-pengajar bernama Liem Siok Hie, yang sebelumnya melayani dalam jemaat berbahasa Melayu. Pada 1932, ia membuka pertemuan penginjilan di rumahnya sendiri di Jalan Plampitan, kali ini secara khusus bagi masyarakat Tionghoa. Responsnya begitu besar sehingga pada 7 April 1935, pertemuan itu didewasakan menjadi THKTKH Semarang, dengan Liem Siok Hie sebagai pendeta pertamanya. Dalam upacara pendewasaan itu, tercatat 51 anggota keturunan Tionghoa dan 18 anggota baptisan dari Salatiga Zending diserahkan kepada jemaat baru — sebuah angka konkret yang jarang ditemukan dalam catatan sejarah gereja Tionghoa awal.
Momentum Kemerdekaan: Dari THKTKH Menjadi GKI (1956–1958)
Kemerdekaan Indonesia memaksa jemaat-jemaat THKTKH menjawab sebuah pertanyaan mendasar: apakah mereka gereja diaspora Tiongkok, atau gereja Indonesia? Jawabannya terwujud secara institusional dalam rentang waktu yang relatif singkat. THKTKH Jawa Tengah mengganti namanya menjadi Gereja Kristen Indonesia (GKI) pada 1956, disusul Jawa Timur pada Mei 1958, dan Jawa Barat pada Oktober 1958.
Perubahan nama ini jauh dari sekadar kosmetik. Ia terjadi bersamaan dengan perubahan bahasa liturgi, konsep kebangsaan, dan keanggotaan jemaat. Gereja yang tadinya dibangun untuk menaungi satu komunitas etnis secara bertahap mendefinisikan dirinya sebagai bagian dari gereja Indonesia yang lebih luas — tanpa serta-merta menghapus warisan sejarah Tionghoanya.
Menyatukan Tiga Wilayah: Sinode Am, Ikrar Penyatuan, dan Satu Tata Gereja
Perubahan nama pada 1956–1958 baru permulaan. Pada 1950-an, Badan Pekerja Persekutuan Gereja (BPPG) yang menghubungkan GKI Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur secara sengaja menggarap tata kebaktian bersama, buku nyanyian, pedoman iman, dan bahkan sikap Kristen terhadap urusan jenazah — sebuah persoalan yang berada tepat di titik temu antara teologi dan budaya Tionghoa.
Proses menuju kesatuan yang lebih formal berlangsung bertahap: Sinode Am terbentuk sejak 1962, ikrar penyatuan diucapkan pada 1988, dan satu Tata Gereja bersama akhirnya disepakati pada 2003. Dengan demikian, GKI yang dikenal hari ini adalah hasil dari perjalanan hampir satu setengah abad — dimulai dari kedatangan seorang evangelis Tionghoa di Batavia pada 1856, melewati fase gereja etnis pada masa kolonial, hingga menjadi salah satu sinode gereja Indonesia yang mapan dan multietnis pada abad ke-21.
Apa Makna Perjalanan Ini bagi Kita Hari Ini?
Sejarah GKI mengingatkan kita bahwa gereja Tuhan bertumbuh bukan melalui satu formula tunggal, melainkan melalui kesetiaan banyak orang dalam peran yang berbeda-beda — evangelis itineran seperti Gan Kwee, keluarga yang berani dibaptis pertama kali seperti Ang Boen Swie, pedagang awam yang menghibahkan hartanya seperti Gouw Ko, penatua yang membuka rumahnya seperti Liem Siok Hie, hingga para pemimpin sinode yang dengan sabar merajut kesatuan selama puluhan tahun. Ini selaras dengan gambaran Rasul Paulus tentang gereja sebagai satu tubuh dengan banyak anggota, “dan Allah telah memberikan tempat kepada tiap-tiap anggota di dalam tubuh itu, seperti yang dikehendaki-Nya” (1 Korintus 12:18).
Perjalanan dari THKTKH menjadi GKI juga menjadi kesaksian nyata bahwa Injil sanggup menyatukan orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda-beda ke dalam satu tubuh, tanpa menuntut mereka melupakan sejarah mereka. Sebagaimana Rasul Paulus menuliskan bahwa dalam Kristus “tidak ada lagi orang Yahudi atau orang Yunani… karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus” (Galatia 3:28), demikian pula GKI hari ini berdiri sebagai gereja Indonesia yang tetap mengenang bagaimana Tuhan memakai jaringan Tionghoa untuk menyatakan kasih-Nya kepada Nusantara.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa itu GKI (Gereja Kristen Indonesia)?
GKI adalah sebuah sinode gereja Protestan di Indonesia yang lahir dari transformasi jemaat-jemaat Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (THKTKH) di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, yang akarnya dirintis sejak pertengahan abad ke-19 di kalangan komunitas Tionghoa.
Siapa Gan Kwee dan apa perannya bagi sejarah GKI?
Gan Kwee adalah evangelis Tionghoa yang didatangkan dari Amoy (Xiamen) pada 1856 untuk mewujudkan prinsip bahwa penginjilan kepada orang Tionghoa sebaiknya dikerjakan oleh orang Tionghoa sendiri. Pelayanan itinerannya di berbagai kota Jawa menabur benih bagi banyak jemaat yang kelak menjadi bagian dari GKI.
Kapan THKTKH resmi berganti nama menjadi GKI?
THKTKH Jawa Tengah berganti nama menjadi GKI pada 1956, disusul Jawa Timur pada Mei 1958, dan Jawa Barat pada Oktober 1958.
Bagaimana proses tiga wilayah GKI menyatu menjadi satu sinode?
Prosesnya berlangsung bertahap: Sinode Am terbentuk sejak 1962, ikrar penyatuan diucapkan pada 1988, dan satu Tata Gereja bersama disepakati pada 2003.
Apakah gereja Tionghoa seperti GKI selalu lahir karena misionaris memisahkan jemaat berdasarkan etnis?
Tidak selalu. Kasus Bandung menunjukkan bahwa pada 1920-an, justru komunitas Tionghoa sendiri yang menginginkan ibadah dan organisasi terpisah dari jemaat Sunda karena perbedaan bahasa dan adat, bukan karena dipaksa oleh misionaris Belanda.
Apa itu GKI Perniagaan dan kapan didirikan?
GKI Perniagaan adalah jemaat Gereja Kristen Indonesia di Jl. Perniagaan No. 1, Tambora, Jakarta Barat, yang berakar pada komunitas Patekoan yang dirintis penginjil Gan Kwee sejak 1856 dan resmi terbentuk sebagai jemaat pada 1868 ketika 17 orang dibaptis oleh Ds. de Gaay Fortman. Ini menjadikannya salah satu jemaat GKI tertua di Indonesia, dengan usia lebih dari 155 tahun.
Siapa saja tokoh pendiri GKI Perniagaan?
Tiga tokoh utamanya adalah Gan Kwee (penginjil Tionghoa dari Amoy yang melayani 45 tahun, 1856–1901), F. L. Anthing (mantan pejabat pengadilan Hindia Belanda yang dijuluki “rasul bagi gereja Tionghoa”), dan Gouw Ko (pedagang Kristen yang pada 1884 menghibahkan empat rumahnya di Jalan Patekoan untuk gedung gereja).
Gereja apa saja yang lahir dari GKI Perniagaan?
Setidaknya tujuh jemaat GKI dapat menelusuri asal-usulnya ke GKI Perniagaan: GKI Pinangsia dan GKI Kanaan (1952), GKI Samanhudi (hasil “Peristiwa Patekoan” 1953), GKI Muara Karang (1980), GKI Batam (1998), GKI Gading Serpong (2004), dan GKI Sunda Kelapa (dilembagakan 2023).
Apa itu “Peristiwa Patekoan” 1953?
“Peristiwa Patekoan” adalah perbedaan pendapat serius antara Majelis Jemaat GKI Perniagaan dan sebagian anggotanya yang terjadi pada 10 Mei 1953, yang berujung pada terbentuknya GKI Samanhudi sebagai jemaat tersendiri. Kedua jemaat mencapai rekonsiliasi resmi pada 10 Mei 1960.
Sumber & Referensi:
- GKI Sinode Wilayah Jawa Barat — gkiswjabar.org/about
- Profil Sinode — GKI Sinode Wilayah Jateng: gkiswjateng.or.id
- Sejarah — GKI Peterongan: gkipeterongan.org
- Kilas Perjalanan — GKI Karangsaru: gkikarangsaru.org
- “Sejarah Penginjilan kepada Etnis Tionghoa di Nusantara” — GKI Pamulang: gkipamulang.org
- Yogi Fitra Firdaus, Lay Missionary Movement and the Establishment of the Peranakan Chinese Christian Community in West Java 1858–1889 — Jurnal Veritas: ojs.seabs.ac.id
- Sejarah GKI Perniagaan (1868–2026) — situs resmi GKI Perniagaan: sejarah.gkiperniagaan.org
- Profil GKI Perniagaan — situs resmi: gkiperniagaan.org
- Sejarah GKI Samanhudi — Perjalanan Iman dan Pelayanan Jemaat: gkisamanhudi.org
- Pdt. Yohanes Bambang Mulyono, “Sejarah Jemaat GKI Perniagaan – Jakarta”: yohanesbm.com
- “Pelembagaan GKI Perniagaan-Bajem Petak Asem menjadi GKI Sunda Kelapa” — GKI Sinode Wilayah Jawa Barat: gkiswjabar.org
Ayat Alkitab yang dirujuk: 1 Korintus 12:18; Galatia 3:28; Wahyu 2:10 (Alkitab Terjemahan Baru — LAI).
Artikel terkait: John Sung dan Penginjilan kepada Etnis Tionghoa di Indonesia.