Poin-Poin Utama
- John Sung lahir 27 September 1901 di Provinsi Fukien (Fujian), Tiongkok, sebagai anak seorang pendeta Methodist, dan bertobat dalam kebangunan rohani di Hing Hwa pada 1913.
- Ia meraih gelar sarjana Fisika dengan penghormatan tertinggi di Universitas Ohio Wesleyan (1923) dan menyelesaikan Ph.D. di Universitas Negeri Ohio, sebelum memutuskan menjadi hamba Tuhan penuh waktu.
- Pelayanannya menjangkau berbagai wilayah di Tiongkok pada 1927–1934, lalu meluas ke Filipina, Singapura, Thailand, dan Indonesia menjelang akhir 1930-an.
- Kebangunan rohani yang ia pimpin di Surabaya pada Januari dan September 1939 melahirkan puluhan kelompok penginjilan dari rumah ke rumah dan mendorong lahirnya kelompok jemaat berbahasa Hin Hwa.
- Pada 1939 pula, John Sung memimpin kebangunan rohani di Patekoan, Jakarta — cikal bakal GKI Perniagaan — yang menurut catatan sejarah resmi gereja tersebut membawa sekitar 150 orang dibaptis dalam setahun, salah satu lonjakan pertumbuhan terbesar dalam sejarah jemaat itu.
- Menurut catatan sejarah GKI Bungur, John Sung datang ke Indonesia pada 1939 bersama seorang penginjil Tiongkok lain, Pdt. Dzao Sze Kuang, dan bersama-sama mereka membawa kebangunan rohani ke berbagai jemaat Tionghoa di Indonesia.
- John Sung tidak “memulai” kekristenan Tionghoa di Surabaya maupun di Jakarta — kedua komunitas itu sudah ada sebelum ia datang; perannya adalah merevitalisasi jemaat yang sudah ada menjadi penginjil yang aktif.
- Gaya khotbahnya dikenal penuh semangat, blak-blakan soal dosa, dan menekankan pertobatan sungguh-sungguh serta kelahiran baru.
- Warisannya membentuk sejarah GKT dan GKA, dua sinode yang berakar dari jaringan migran Kristen Tionghoa di Surabaya.
Siapa John Sung?
John Sung — dalam sejumlah catatan sejarah gereja juga disebut dengan nama kecilnya, Ju En, yang berarti “kasih karunia Allah” — lahir pada 27 September 1901 di sebuah desa di Provinsi Fukien (Fujian), Tiongkok Tenggara. Ia adalah anak keenam dari seorang pendeta Methodist yang hidup dalam kesederhanaan; ibunya bahkan turut bekerja di sawah untuk menopang ekonomi keluarga. Sejak usia belia, John Sung sudah aktif berkhotbah setelah mengalami pertobatan dalam sebuah kebangunan rohani di Hing Hwa pada 1913, sehingga ia dijuluki “Pengkhotbah Cilik” oleh jemaatnya.
Kecerdasannya membawanya ke Amerika Serikat dengan beasiswa, di mana ia meraih gelar sarjana Fisika dengan penghormatan tertinggi dari Universitas Ohio Wesleyan pada 1923, lalu melanjutkan studi doktoralnya di Universitas Negeri Ohio. Ia bahkan sempat mendaftar di Union Theological Seminary. Namun titik balik hidupnya terjadi ketika ia memutuskan untuk sepenuhnya menjadi hamba Tuhan. Menurut catatan biografis, saat kembali ke Tiongkok pada 1926, ia membuang sebagian ijazah dan penghargaan akademiknya ke laut — sebuah tindakan simbolis bahwa ia tidak ingin gelar-gelar itu menjadi penghalang bagi panggilan pelayanannya.
Gaya Penginjilan yang Membakar Semangat Banyak Orang
John Sung dikenal luas karena gaya berkhotbahnya yang penuh semangat dan emosional. Ia tidak segan turun dari mimbar dan menunjuk langsung ke arah pendengarnya, berbicara blak-blakan tentang dosa, penyesalan, dan perlunya kelahiran kembali. Fokus utama pemberitaannya sejalan dengan yang diajarkan Tuhan Yesus sendiri kepada Nikodemus: “Jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah” (Yohanes 3:3). Ia juga dikenal mendoakan orang sakit, meski tidak semua yang didoakannya mengalami kesembuhan — penekanannya tetap pada kesucian hidup dan ketulusan pertobatan, bukan sensasi.
Antara 1927 hingga 1934, pelayanannya menjangkau berbagai wilayah Tiongkok — dari Hing Hwa, Foo Chow, Shanghai, hingga Nan Chang dan Manchuria. Memasuki paruh kedua 1930-an, jangkauannya meluas ke Asia Tenggara: Filipina (Manila dan Cebu), Singapura — di mana dalam empat belas hari ia berkhotbah empat puluh kali dan membentuk ratusan tim penginjil — serta Thailand dan Sarawak.
Kedatangan John Sung ke Indonesia: “Serie Meeting” di Tiga Belas Kota (1939)
Kedatangan John Sung ke Indonesia pada 1939 bukan kunjungan singkat ke satu-dua kota, melainkan sebuah rangkaian kebaktian kebangunan rohani berskala besar yang dikenal sebagai “Serie Meeting”. Menurut catatan e-MISI SABDA.org, John Sung menyelenggarakan rangkaian ini di tiga belas kota — Surabaya, Madiun, Solo, Magelang, Purworejo, Yogyakarta, Cirebon, Bandung, Bogor, Jakarta, Makassar, Ambon, dan Medan — dengan setiap kota menerima dua puluh dua sesi khotbah selama tujuh hari berturut-turut. Hasilnya, ribuan orang mendaftarkan diri untuk mengikuti katekisasi lanjutan setelah mendengar khotbahnya.
Dua kota yang paling banyak dicatat dampaknya secara spesifik dalam sejarah gereja-gereja Tionghoa Indonesia adalah Surabaya dan Jakarta.
Kebangunan Rohani Surabaya (Januari dan September 1939)
Untuk memahami signifikansinya, kita perlu tahu konteksnya terlebih dahulu. Sejak awal abad ke-20, orang-orang Kristen yang bermigrasi langsung dari Tiongkok sudah mengadakan persekutuan rumah tangga di Surabaya — mereka datang sebagai orang Kristen, bukan dikonversi di tanah Jawa. Kelompok-kelompok ibadah ini berkembang menurut asal bahasa masing-masing, dan pada 1934 tiga kelompok — Amoy, Kanton, dan Fuchow-Kuoyu — telah bergabung dalam struktur THKTKH Jawa Timur.
Ke dalam komunitas yang sudah terbentuk inilah John Sung datang. Kebangunan rohaninya melahirkan puluhan kelompok penginjilan dari rumah ke rumah, dan sejarah resmi Sinode GKA mencatat bahwa momentum 1939 ini juga berkaitan dengan tumbuhnya kelompok jemaat berbahasa Hin Hwa — sehingga pada masa itu Surabaya memiliki empat kelompok bahasa/dialek: Amoy, Kanton, Fuchow-Kuoyu, dan Hin Hwa. Jaringan inilah yang kemudian menjadi bagian dari sejarah dua sinode, GKT dan GKA.
John Sung dan GKI Perniagaan: Kebangunan Rohani di Patekoan, Jakarta
Selain Surabaya, kota lain yang mengalami dampak besar dari kedatangan John Sung pada 1939 adalah Jakarta — tepatnya di jemaat Patekoan, cikal bakal GKI Perniagaan hari ini. Menurut catatan sejarah resmi GKI Perniagaan, kebangunan rohani yang dipimpin John Sung pada 1939 membawa sekitar 150 orang dibaptis dalam setahun — sebuah lonjakan besar bagi jemaat yang saat itu sudah berdiri lebih dari tujuh puluh tahun sejak dirintis Gan Kwee pada 1856.
Sejarah GKI Bungur, salah satu jemaat yang beberapa tahun kemudian juga menelusuri akarnya kembali ke Patekoan, turut mencatat momen ini: “Tahun 1939, para tokoh pekabar Injil dari negeri Tiongkok yang lain juga datang ke Indonesia… adalah Dr. John Sung dan Pdt. Dzao Sze Kuang. Melalui Kebaktian Kebangunan Rohani tersebut jemaat-jemaat Tionghoa di Indonesia sungguh-sungguh mengalami kebangunan rohani.” Catatan ini menegaskan bahwa dampak John Sung di Indonesia bukan peristiwa yang berdiri sendiri di satu kota, melainkan bagian dari gelombang kebangunan rohani yang menyentuh jemaat-jemaat Tionghoa di berbagai kota secara hampir bersamaan.
Perlu dicatat bahwa kebangunan rohani 1939 ini terjadi lebih dari satu dekade sebelum Patekoan mengalami serangkaian pemekaran jemaat pada 1952–1953 (melahirkan GKI Pinangsia, GKI Kanaan, dan kemudian GKI Samanhudi) yang dibahas lebih lanjut dalam artikel “Sejarah GKI dalam Pengabaran Injil di Indonesia“. Pemekaran-pemekaran itu terutama didorong oleh perbedaan bahasa pengantar ibadah (dialek Hokkian) dan pertumbuhan jumlah jemaat, bukan akibat langsung dari kebangunan rohani John Sung — namun keduanya sama-sama mencerminkan sebuah jemaat yang terus bertumbuh dan menghasilkan pemimpin serta komunitas baru sepanjang paruh pertama abad ke-20.
John Sung “Memulai” atau “Menyalakan Kembali”?
Ini adalah pertanyaan yang penting untuk dijawab dengan tepat, karena keliru memahaminya bisa mengaburkan sejarah panjang gereja-gereja Tionghoa Indonesia sebelum 1939. John Sung tidak memulai kekristenan Tionghoa di Surabaya maupun di Patekoan, Jakarta — kedua komunitas itu sudah ada beberapa dekade sebelumnya, jauh sebelum ia datang. Patekoan bahkan sudah berdiri sejak 1868, tujuh puluh satu tahun sebelum John Sung tiba. Signifikansi historisnya terletak pada revitalisasi: ia mengubah anggota jemaat yang sudah lama beriman menjadi penginjil yang aktif memberitakan Injil kepada sesama mereka, dan dalam kasus Patekoan, turut mempercepat pertumbuhan jemaat yang menjadi pijakan bagi pemekaran-pemekaran berikutnya.
Perbedaan ini sejalan dengan pola kebangunan rohani sepanjang sejarah gereja — dari kebangunan di Pentakosta (Kisah Para Rasul 2) hingga berbagai kebangunan rohani modern: Tuhan sering kali tidak menciptakan sesuatu dari ketiadaan, melainkan menyalakan kembali api yang sebenarnya sudah ada namun meredup. Rasul Paulus menuliskan nasihat serupa kepada Timotius, muridnya, untuk “mengobarkan karunia Allah yang ada padamu” (2 Timotius 1:6) — sebuah gambaran yang tepat untuk menjelaskan apa yang terjadi pada jemaat-jemaat Tionghoa di Surabaya maupun Jakarta pada 1939.
Warisan John Sung bagi Gereja Tionghoa Indonesia
Warisan terbesar John Sung bukan hanya jumlah orang yang bertobat selama kunjungannya, melainkan ratusan — bahkan menurut sejumlah catatan biografis, puluhan hingga ratusan pemuda di berbagai negara yang terdorong menjadi hamba Tuhan penuh waktu setelah mendengar khotbahnya. Di Surabaya, dampaknya terasa dalam pembentukan kelompok-kelompok penginjilan rumah ke rumah yang menjadi salah satu fondasi pertumbuhan jemaat yang kelak menjadi GKT dan GKA. Di Jakarta, dampaknya tercatat dalam lonjakan sekitar 150 baptisan dalam setahun di Patekoan, memperkuat jemaat yang kelak dikenal sebagai GKI Perniagaan dan menjadi salah satu jemaat GKI tertua di Indonesia.
Kisah John Sung juga mengingatkan kita akan sebuah kebenaran yang ditegaskan Rasul Paulus: “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Roma 10:17). Ia adalah salah satu contoh nyata bagaimana satu orang yang setia memberitakan firman dapat menjadi alat Tuhan untuk menggerakkan ribuan orang lain memberitakan Injil kepada generasi berikutnya.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Siapa John Sung?
John Sung (1901–1944) adalah penginjil kelahiran Fukien, Tiongkok, yang dikenal luas sebagai salah satu tokoh kebangunan rohani paling berpengaruh di Asia pada 1930-an. Ia melayani di Tiongkok, Filipina, Singapura, Thailand, dan Indonesia, dan dijuluki “Obor Allah di Asia”.
Kapan John Sung berkhotbah di Indonesia?
Menurut sejumlah catatan biografis, John Sung melayani di berbagai kota Indonesia menjelang akhir 1930-an, termasuk Surabaya, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Makassar, dan Ambon. Sejarah resmi Sinode GKA secara khusus mencatat kebangunan rohani yang ia pimpin di Surabaya pada Januari dan September 1939.
Apa dampak kebangunan rohani John Sung bagi gereja Tionghoa di Surabaya?
Kebangunan rohani ini melahirkan puluhan kelompok penginjilan dari rumah ke rumah dan berkaitan dengan tumbuhnya kelompok jemaat berbahasa Hin Hwa di Surabaya. Jaringan yang direvitalisasi ini kemudian menjadi bagian penting dari sejarah dua sinode, GKT dan GKA.
Apakah John Sung yang memulai kekristenan Tionghoa di Surabaya?
Tidak. Komunitas Kristen Tionghoa di Surabaya, yang sebagian besar berasal dari migran Kristen langsung dari Tiongkok, sudah mengadakan persekutuan rumah tangga sejak awal abad ke-20 — jauh sebelum kedatangan John Sung. Perannya adalah merevitalisasi komunitas yang sudah ada, bukan memulainya dari nol.
Apa latar belakang pendidikan John Sung sebelum menjadi penginjil?
John Sung meraih gelar sarjana Fisika dengan penghormatan tertinggi dari Universitas Ohio Wesleyan pada 1923 dan menyelesaikan program doktoral di Universitas Negeri Ohio, Amerika Serikat, sebelum memutuskan meninggalkan jalur akademik untuk menjadi hamba Tuhan penuh waktu.
Apa hubungan John Sung dengan GKI Perniagaan?
Pada 1939, John Sung memimpin kebangunan rohani di jemaat Patekoan, cikal bakal GKI Perniagaan di Jakarta. Menurut catatan sejarah resmi GKI Perniagaan, kebangunan rohani ini membawa sekitar 150 orang dibaptis dalam setahun, salah satu lonjakan pertumbuhan terbesar dalam sejarah jemaat yang saat itu sudah berdiri lebih dari tujuh dekade sejak dirintis Gan Kwee pada 1856.
Di kota mana saja John Sung berkhotbah di Indonesia pada 1939?
Menurut catatan e-MISI SABDA.org, John Sung menyelenggarakan rangkaian “Serie Meeting” di tiga belas kota: Surabaya, Madiun, Solo, Magelang, Purworejo, Yogyakarta, Cirebon, Bandung, Bogor, Jakarta, Makassar, Ambon, dan Medan — masing-masing menerima dua puluh dua sesi khotbah selama tujuh hari.
Sumber & Referensi:
- Sejarah — Sinode GKA: sinodegka.or.id
- Gereja Kristus Tuhan — Artikel Sinode GKT: sinodegkt.org
- “John Sung, Obor Tuhan dari Asia” — Gereja Cornerstone Baptis Injili Indonesia: cebcindonesia.wordpress.com
- “John Sung” — GRII Cikarang: grii-cikarang.org
- “John Sung (1901–1944)” — e-MISI, Yayasan Lembaga SABDA: misi.sabda.org
- Sejarah GKI Perniagaan (1868–2026) — situs resmi GKI Perniagaan: sejarah.gkiperniagaan.org
- “Sejarah GKI Bungur” — GKI Bungur: gkibungur.or.id
Ayat Alkitab yang dirujuk: Yohanes 3:3; Kisah Para Rasul 2; Roma 10:17; 2 Timotius 1:6 (Alkitab Terjemahan Baru — LAI).
Artikel terkait: Sejarah GKI dalam Pengabaran Injil di Indonesia.