Panduan Iman
Bagaimana Kita Meminta Petunjuk TUHAN?
Pertumbuhan

Bagaimana Kita Meminta Petunjuk TUHAN?

4 Sep 2026 10 menit baca
Meminta petunjuk Tuhan berarti mencari kehendak-Nya, bukan meminta Tuhan menyetujui agenda yang sudah kita tentukan sendiri. Berdasarkan Yeremia 10, ada jurang besar antara agenda manusia dan kehendak Tuhan, dan satu-satunya yang dapat menjembataninya adalah ketaatan — sebuah perjalanan iman yang dimulai dari menyadari ketidakmampuan diri (Yeremia 10:23) dan mengenal Tuhan dengan benar.

Poin-Poin Utama

  • Saat berdoa, kita sering sudah punya agenda sendiri — didorong oleh ketidakpastian hidup, ketakutan, kekuatiran, atau keinginan — lalu meminta Tuhan menjalankannya, bukan sebaliknya (Yeremia 10:2).
  • Memiliki agenda pribadi tidak salah, tetapi motivasi hati di baliknya perlu terus-menerus diperiksa.
  • Pemimpin yang gagal mencari petunjuk TUHAN akan gagal dalam kepemimpinannya, dan itu berdampak pada orang-orang yang dipimpinnya (Yeremia 10:21).
  • Kehendak Tuhan berkaitan erat dengan karakter-Nya (adil, baik, kasih) dan tujuan-Nya menghadirkan shalom di bumi seperti di surga.
  • Kita bisa keliru menganggap agenda sendiri sebagai kehendak Tuhan karena tidak mengenal Tuhan dengan benar (Yeremia 4:22), atau karena mencari orang yang sekadar mendukung agenda kita.
  • Satu-satunya jembatan antara agenda manusia dan kehendak Tuhan adalah ketaatan — perjalanan iman yang dimulai dari menyadari ketidakmampuan diri dan mengenal siapa Tuhan sesungguhnya.

Apa Itu Petunjuk Tuhan?

Secara singkat, petunjuk Tuhan menunjuk kepada kehendak Tuhan. Untuk memahaminya, ada tiga bagian yang perlu kita lihat: agenda manusia, kehendak Tuhan, dan perjalanan iman menuju kehendak-Nya.

Bagian 1: Agenda Manusia — Apa yang Sering Mendorong Doa Kita?

Ketika berdoa, kita sering didorong oleh pemikiran atau perasaan seperti berikut:

  • Ketidakpastian hidup
  • Ketakutan
  • Kekuatiran
  • Keinginan

Pemikiran dan perasaan ini umumnya mendorong kita untuk mencari solusi dengan cara apa pun.

Yeremia 10:2 — “Beginilah firman TUHAN: ‘Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah langkah bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun bangsa-bangsa gentar terhadapnya.'”

Orang-orang zaman dahulu sering melihat fenomena langit sebagai tanda malapetaka (komet, meteor, gerhana). Dalam hal ini, reaksi bangsa Yehuda tidak ada bedanya dengan bangsa-bangsa lain. Mereka mulai menyembah berhala-berhala agar terlepas dari musibah. Bangsa Yehuda, selain menyembah Yahweh, juga ikut menyembah banyak berhala.

Zaman sekarang, fenomena langit bisa dijelaskan secara sains. Namun bukankah kita juga sering gentar terhadap masalah? Bukankah kita juga memiliki banyak keinginan? Kemudian kita berdoa:

  • “Tolong berikan…” (jalan keluar, keamanan, kesehatan, dll.)
  • “Berkati…” (semua lancar, tidak ada masalah)
  • “Saya tidak ingin…” (masa depan sulit, pasangan/anak saya bertingkah seperti ini, posisi ini atau pelayanan itu)

Sehingga ketika kita berdoa, kita sudah memiliki agenda sendiri dan kemudian meminta petunjuk Tuhan. Dengan kata lain, kita meminta Tuhan melancarkan agenda kita.

Apakah salah memiliki agenda sendiri? Tidak. Manusia memiliki akal budi untuk berpikir. Yang salah adalah kita sudah terlebih dahulu menentukan agenda kita dan meminta Tuhan menjalankan agenda kita. Memiliki agenda sendiri itu sangat wajar, namun kita perlu senantiasa memeriksa motivasi hati dari setiap agenda kita. Motivasi hati sangat penting.

Bagian 2: Mengenal Kehendak Tuhan

Yeremia dalam tangisannya mengatakan:

Yeremia 10:21 — “Sungguh, gembala-gembala sudah menjadi bodoh, mereka tidak menanyakan petunjuk TUHAN. Sebab itu mereka tidak berbahagia dan seluruh binatang gembalaan mereka cerai-berai.”

Gembala-gembala di sini adalah para pemimpin yang, dalam menjalankan tugasnya, tidak mencari TUHAN. Mereka adalah raja, para menteri, nabi, dan imam — pemimpin yang memimpin dengan mengandalkan hikmat sendiri. Kepemimpinan mereka gagal, dan rakyatnya juga ikut melakukan kejahatan yang mereka perbuat.

Apa peranmu dalam hidupmu? Mungkin sebagai pemimpin gereja (MJ), pendamping komisi, atau pengurus komisi; pemimpin perusahaan atau departemen tertentu; kepala keluarga, ibu rumah tangga, atau anak-anak. Dalam menjalankan peranmu dalam hidup ini, sudahkah kamu menanyakan petunjuk TUHAN?

Umumnya kita menjawab, “Saya tidak tahu apa maunya Tuhan.” Setelah menjawab tidak tahu, lalu apa lanjutannya? Tetap tidak tahu. Jawaban “tidak tahu” adalah jawaban yang sangat tidak bertanggung jawab — bisa dikatakan lari dari tanggung jawab dan tidak mau tahu.

Tuhan memberikan kita firman untuk dibaca dan direnungkan. Tuhan memberikan berbagai sumber daya dalam kehidupan kita. Kita dapat datang kepada Tuhan dalam doa sehari-hari untuk berkomunikasi dengan-Nya dalam nama Tuhan Yesus. Kita bertanggung jawab atas hidup kita sendiri untuk mencari tahu kehendak TUHAN.

Mengapa Tuhan Ingin Kita Mencari Kehendak-Nya?

Yesus mengajar kita untuk berdoa: “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.” Ketika Tuhan menjadikan langit dan bumi, Tuhan memiliki tujuan yang sedang Dia kerjakan. Sama halnya ketika Tuhan menciptakan kita, setiap kita dipanggil untuk tujuan tertentu. Tuhan ingin kita menyambut Kerajaan-Nya, pemerintahan-Nya sebagai Raja, agar kehendak Tuhan terjadi di bumi seperti di surga. Kehendak Tuhan tidak terlepas dari karakter-Nya (adil, baik, kasih), dan Tuhan hendak membawa segala kebaikan ini di bumi seperti di surga, yaitu shalom — kedamaian, keharmonisan, keutuhan, kelengkapan, kemakmuran, kesejahteraan, dan ketenangan.

Apakah Tuhan Ingin Mendikte Hidup Kita?

Tidak. Kita bukan robot, dan kita memiliki kebebasan untuk memilih. Tuhan adalah orang tua yang mendidik dan mengajar kita di jalan yang benar, dan memberi kebebasan kepada kita untuk memilih mengikut jalan-Nya atau agenda kita sendiri.

Terkadang, dalam proses mengambil sebuah keputusan, kita bisa saja keliru memandang agenda sendiri sebagai kehendak Tuhan. Hal ini dapat terjadi karena:

  1. Tidak mengenal Tuhan dengan benar.

    Yeremia 4:22 — “Sungguh, bodohlah umat-Ku itu, mereka tidak mengenal Aku! Mereka adalah anak-anak tolol, dan tidak mempunyai pengertian! Mereka pintar untuk berbuat jahat, tetapi untuk berbuat baik mereka tidak tahu.”

  2. Mencari orang yang mendukung agenda kita dengan modal orang tersebut adalah orang Kristen. Berhikmatlah dalam mencari orang yang tepat untuk curhat/sharing tentang pergumulanmu.

Ingatlah bahwa setiap keputusan yang kita ambil diikuti oleh konsekuensi yang harus kita tanggung. Kita tidak dapat menyalahkan Tuhan ataupun orang lain jika kita sendiri yang salah mengambil keputusan.

Tuhan menyediakan segala yang kita butuhkan dalam hidup ini. Firman-Nya tertulis jelas, renungkanlah baik-baik. Jangan memilih ayat firman Tuhan yang mendukung agenda kita dan menyingkirkan ayat firman Tuhan yang tidak sesuai dengan agenda kita.

Di antara kehendak Tuhan dan agenda manusia ada sebuah jurang yang besar. Dan satu-satunya yang dapat menjembatani jurang ini adalah ketaatan. Ketaatan adalah kata yang sederhana tetapi sulit dilakukan, karena ketaatan adalah sebuah perjalanan mengenal Tuhan dan bersandar pada-Nya. Ketaatan adalah sebuah perjalanan iman.

Bagian 3: Perjalanan Iman

Dalam pergumulan mempersiapkan renungan dari Yeremia 10 dengan tema “Bagaimana Kita Meminta Petunjuk TUHAN,” muncul doa sederhana: “Tuhan berikan petunjuk-Mu, sehingga saya bisa mengajar tentang bagaimana kita meminta petunjuk-Mu.” Kemudian Tuhan memberikan sebuah ayat:

2 Timotius 2:15 — “Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.”

Tuhan tidak memberikan ide untuk mengajar dengan metode tertentu, tetapi Tuhan memberikan prinsip dalam mengajar — mengarahkan motivasi hati yang benar: usahakan supaya layak di hadapan Allah (bukan manusia) sebagai seorang pekerja (hamba-Nya) yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran (firman-Nya).

Sebagai pengkhotbah dan pembina pun, pergumulan dalam perjalanan iman tetap ada — rasa takut, kuatir, dan keinginan-keinginan dalam tugas pelayanan tertentu bisa muncul. Tetapi belajar akan kebenaran firman Tuhan menolong kita untuk menyetel kembali motivasi hati dan kembali ke arah pelayanan menurut kehendak Tuhan.

Perjalanan iman perlu dimulai dengan dua hal berikut.

1. Menyadari Bahwa Diri Sendiri Tidak Mampu

Yeremia 10:23 — “Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya.”

Kita dapat belajar berdoa dengan berfokus pada Tuhan:

  • “Engkau adalah…” (Pencipta langit dan bumi, Pemelihara hidup, Adil)
  • “Saya tidak mampu/tidak layak…” (berjalan sendiri, melakukan tugas tanpa-Mu)
  • “Ajarilah saya melihat…” (kehendak-Mu, dan bukan agendaku)

Berdoa tidak harus terus berbicara — seringkali kita perlu diam dan mendengar apa yang Tuhan hendak katakan.

2. Mengenal TUHAN dengan Benar

Siapakah Tuhan? Yeremia 10 memaparkan siapakah Tuhan bagi kita:

Yeremia 10:6-7 — “Tidak ada yang sama seperti Engkau, ya TUHAN! Engkau besar dan nama-Mu besar oleh keperkasaan. Siapakah yang tidak takut kepada-Mu, ya Raja bangsa-bangsa? Sungguh kepada-Mulah seharusnya sikap yang demikian; sebab di antara semua orang bijaksana dari bangsa-bangsa dan di antara raja-raja mereka tidak ada yang sama seperti Engkau!”

Yeremia 10:10 — “Tetapi TUHAN adalah Allah yang benar, Dialah Allah yang hidup dan Raja yang kekal. Bumi goncang karena murka-Nya, dan bangsa-bangsa tidak tahan akan geram-Nya.”

Yeremia 10:12-13 — “TUHANlah yang menjadikan bumi dengan kekuatan-Nya, yang menegakkan dunia dengan kebijaksanaan-Nya, dan yang membentangkan langit dengan akal budi-Nya. Apabila Ia memperdengarkan suara-Nya, menderulah bunyi air di langit, Ia menaikkan kabut awan dari ujung bumi, Ia membuat kilat serta dengan hujan, dan mengeluarkan angin dari perbendaharaan-Nya.”

Yeremia 10:16 — “Tidaklah begitu Dia yang menjadi bagian Yakub, sebab Dialah yang membentuk segala-galanya, dan Israel adalah suku milik-Nya; nama-Nya ialah TUHAN semesta alam!”

Perlu kita renungkan: apakah dalam hati kita benar-benar percaya bahwa “tidak ada yang sama seperti Engkau, ya TUHAN”?

Tanpa mengenal Tuhan dengan benar, kita akan kesulitan dalam perjalanan iman kita. Kita perlu senantiasa belajar dari firman Tuhan untuk menghadapi pikiran dan perasaan kita. Firman Tuhan sangat jelas ketika menanggapi agenda kita:

  • Ketidakpastian hidup — Tuhan adalah Alfa dan Omega (Wahyu 1:8).
  • Ketakutan — Yesus berkata, “Aku ini, jangan takut!” (Yohanes 6:20).
  • Kekuatiran — Yesus mengajarkan, “Janganlah kuatir akan hidupmu” (Matius 6:25).
  • Keinginan — firman Tuhan mengajarkan kita tentang penguasaan diri (Titus 1:8).

Semakin kita dekat dengan Tuhan, kita akan semakin mengenal kehendak-Nya. Mengenal kehendak-Nya dapat memampukan kita melepaskan agenda yang ada, karena mata kita tertuju pada-Nya.

Jangan Menaruh Tuhan dalam Kotak

Sering kali dalam berdoa, kita menaruh Tuhan di dalam “kotak” — misalnya ada rencana besuk seseorang: “Kalau jam segini hujan, saya tidak akan pergi. Kalau jam segini tidak hujan, saya akan pergi.” Tuhan selalu berbicara tentang hal mendasar atau prinsip. Kehendak Tuhan bukan tentang hujan atau tidak — itu agenda kita. Justru yang perlu direnungkan adalah apa motivasi untuk besuk orang tersebut? Apakah orang tersebut perlu bimbingan spiritual, atau justru perlu dibiarkan bergumul secara pribadi dengan Tuhan terlebih dahulu? Kehendak Tuhan adalah tentang agenda Tuhan dan waktu Tuhan.

Jangan menaruh Tuhan dalam kotak, tetapi taruhlah diri kita sendiri di dalam kotak. Kita perlu berada di dalam kotak kebenaran firman Tuhan agar dapat mengenal kehendak-Nya. Firman Tuhan memberikan kita batasan yang seharusnya tidak kita lewati.

Kesimpulan: Bagaimana Kita Meminta Petunjuk Tuhan?

  1. Kita perlu memeriksa motivasi hati dari agenda kita.
  2. Kita perlu menyambut Kerajaan-Nya dan kehendak-Nya di bumi seperti di surga.
  3. Ketaatan adalah perjalanan iman menuju kehendak Allah — kita perlu mengenal Tuhan dengan benar (hikmat).

Pertanyaan Umum (FAQ)

Apa bedanya agenda manusia dengan kehendak Tuhan?

Agenda manusia adalah rencana atau keinginan yang sudah kita tentukan sendiri terlebih dahulu — biasanya didorong oleh ketidakpastian, ketakutan, kekuatiran, atau keinginan — lalu kita meminta Tuhan menjalankannya. Kehendak Tuhan, sebaliknya, berkaitan dengan karakter-Nya (adil, baik, kasih) dan tujuan-Nya menghadirkan shalom di bumi seperti di surga.

Apakah salah memiliki agenda atau keinginan sendiri saat berdoa?

Tidak. Manusia memiliki akal budi untuk berpikir dan wajar memiliki agenda sendiri. Yang keliru adalah ketika kita sudah menentukan agenda terlebih dahulu dan meminta Tuhan menjalankannya, tanpa memeriksa motivasi hati di baliknya.

Mengapa jawaban “saya tidak tahu kehendak Tuhan” dianggap tidak bertanggung jawab?

Karena Tuhan sudah memberikan firman-Nya untuk dibaca dan direnungkan, serta berbagai sumber daya dan kesempatan berdoa untuk berkomunikasi dengan-Nya. Berhenti pada jawaban “tidak tahu” tanpa mencari lebih lanjut sama dengan lari dari tanggung jawab untuk mencari kehendak-Nya (Yeremia 10:21).

Bagaimana caranya mengenal kehendak Tuhan dengan benar?

Dengan mengenal Tuhan dengan benar melalui firman-Nya (Yeremia 10:6-7, 10, 12-13, 16), memeriksa motivasi hati dari setiap agenda kita, dan menyambut kehendak serta Kerajaan-Nya di bumi seperti di surga.

Apa yang menjembatani jurang antara agenda manusia dan kehendak Tuhan?

Ketaatan — sebuah perjalanan mengenal Tuhan dan bersandar pada-Nya, yang sederhana untuk dikatakan tetapi sulit untuk dijalani.

Bagaimana cara memulai perjalanan iman untuk mengenal kehendak Tuhan?

Perjalanan ini dimulai dengan menyadari bahwa diri sendiri tidak berkuasa menentukan jalan sendiri (Yeremia 10:23), lalu terus-menerus belajar mengenal siapa Tuhan sesungguhnya melalui firman-Nya.


Sumber & Referensi:
Artikel ini diadaptasi dari bahan pendalaman Alkitab “Bagaimana Kita Meminta Petunjuk TUHAN?” oleh Ev. Wennie Dong, dipublikasikan oleh GKI Duta Mas: gkidutamas.org/pendalaman-alkitab/bagaimana-kita-meminta-petunjuk-tuhan

Ayat Alkitab yang dirujuk: Yeremia 4:22; 10:2, 6-7, 10, 12-13, 16, 21, 23; 2 Timotius 2:15; Wahyu 1:8; Yohanes 6:20; Matius 6:25; Titus 1:8 (Alkitab Terjemahan Baru — LAI).

WD
Ev. Wennie Dong
Evangelis GKI Duta Mas (Batam)

Evangelis GKI Duta Mas, Batam; menyelesaikan studi teologi di Trinity Theological College, Singapura (2022).

Lihat semua tulisannya

Tulisan baru, langsung ke Email Anda

Untuk terus memandu iman Anda. Tanpa iklan, tanpa jualan.